Yah…, Sayyid itulah orang-orang memanggilnya. Namanya aku tidak tahu, begitu juga kebanyakan orang di kampungku tidak tahu namanya, tetapi aku ikut-ikutan orang dengan memanggilnya Sayyid. Katanya dia adalah seorang keturunan Nabi saw. Wow, aku kagum ada anak cucu Nabi singgah di kampungku. Biasanya kalau dia datang ke kampungku sambil berjualan minyak wangi.
Posturnya tinggi 170-an cm dengan besar badannya seimbang, wajahnya ganteng khas Arabia dengan cambang lamat-lamat di kedua pipinya.
Rambutnya keriting cepak, kedua lengannya ditumbuhi rambat-rambut halus yang lebat. Biasanya dia memakai celana jean dan kaos T-sirt warna merah. Keren banget, itulah penampilannya. Ada satu hal yang menjadi catatan bagi orang-orang di kampungku terhadap sosok ini. Dia tidak pernah ikut shalat Dzuhur bersama kami di masjid, bahkan sampai menjelang shalat Ashar pun dia tidak melakukan shalat sehingga pamit pulang ke kota tempat tinggalnya.
Begitulah waktu terus berjalan, berkali-kali dia singgah di kampungku dan tetap saja dia tidak pernah menjalankan shalat. Akhirnya seorang pamanku yang cukup akrab dengannya memberanikan bertanya kenapa dia tidak shalat. Sang “sayyid” itu menjawab santai tanpa beban, bahwa dirinya tidak perlu shalat karena sudah diampuni dosanya dan dijamin masuk surga. Mendengar jawaban itu, pamanku hanya mengangguk-angguk tapi dalam hatinya tidak percaya begitu saja. Setelah si Sayyid itu pergi meninggalkan kampung kami, kami pun memperbincangkannya. Bahkan bisa dibilang berdebat kecil-kecilan mempermasalahkan apakah benar dia itu seorang keturunan Nabi saw? Dan di akhir perbincangan bisa disimpulkan bahwa kami mulai meragukan akan statusnya sebagai cucu Nabi Saw.
Maka di waktu-waktu selanjutnya, setiap kali orang Arab itu datang ke kampungku, orang-orang kampung tidak ada lagi yang menyambutnya. Begitu mendengar dia datang, orang-orang tidak lagi mengerubutinya. Orang-orang sudah menyadari akan kebohongan orang Arab itu, bahwa dia pasti bukan keturunan Nabi saw. Dia adalah orang Arab biasa yang enggan menjalankan Shalat. Karena merasa dicueki oleh orang-orang di kampungku, akhirnya dia tidak pernah datang lagi. Berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun sampai aku tamat SMA, orang Arab itu tidak pernah lagi muncul di kampungku.
*****
Ada yang membekas dalam benakku akibat pengalaman berjumpa dengan orang Arab yang mengaku Ahlul Bait Nabi. Ya, dalam benakku sejak itu terukir rasa tidak percaya adanya keturunan Nabi saw di zaman ini. Menurutku bagaimana mungkin keturunan Nabi bisa sampai ke negeri ini, apalagi jumlahnya begitu banyak sampai ribuan. Bagiku itu mustahil, pastilah orang-orang itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai keturunan Nabi seperti orang Arab yang dulu pernah singgah dan berjualan minyak wangi di kampungku.
Begitulah aku benar-benar tidak percaya, aku pikir itu tidak masuk akal ada anak cucu Nabi berada di Indonesia. Apalagi jika kuingat sejarah yang pernah kubaca, cucu Nabi Sayyidina Husein dibunuh oleh anak Mu’awiyah dalam peristiwa Karbala yang memilukan. Bukankah di situ sudah habis anak cucu Nabi? Demikian aku pernah berpikir dan menganalisa tentang anak cucu Nabi. Juga ditambah isu-isu yang kudengar dalam pergaulan sehari-hari di Jakarta bahwa yang disebut garis keturunan itu harus dari anak lelaki, sedangkan Siti Fatimah adalah seorang putri.
Bahkan aku semakin tidak percaya adanya anak cucu Nabi di Indonesia ketika dulu seorang tokoh menteri agama tahun 80-an juga mengatakan bahwa dirinya tidak begitu percaya adanya anak cucu Nabi di Indonesia. Begitu juga seorang adik sepupuku yang lulusan Al-Azhar juga tidak begitu respect tentang Habib dan Habaib, dan ketika kutanya dia hanya mengartikan Habib itu artinya cinta sambil mengisyaratkan dirinya tidak percaya adanya anak cucu Nabi saw. Aneh kan, kok ada lulusan Al-Azhar yang tidak percaya adanya habib keturunan Nabi saw ? Tapi begitulah fakta yang kutemukan pada adik sepupuku yang jebolan Al-Azhar Cairo Mesir.
Tapi sekarang semuanya berubah 1000 derajat, akhirnya aku bisa percaya dengan keyakinan penuh tentang adanya para habib keturunan Rasulullah saw. Perubahan ini bermula pada bulan Maulid Nabi Saw (Rabi’ul Awal) 2008. Ketika suatu malam berhujan deras aku “terpaksa” ikut menyaksikan Habib Munzir Al Musawa yang sedang berceramah di Terminal Perumnas Kelender Jakarta Timur. Ya, waktu itu aku terpaksa ikut menyimak ceramah Habib Munzir karena aku dipaksa oleh putriku yang baru kelas 4 SD merengek-rengek dan ngambek minta diantar untuk menghadiri Acara Tabligh Akbar Habib Munzir. Tidak ada pilihan lain kecuali harus mengantarnya ke acara tersebut, dan aku pun akhirnya tenggelam dalam siraman rohani dari Habib Munzir yang menyejukkan jiwaku bersama guyuran hujan deras di malam itu. Dan ajaibnya walaupun hujan sangat deras mengguyur Terminal Perumna Kelender, malam itu hadirin yang jumlahnya 30 ribuan muslimin tidak bubar sampai acara berakhir. Walaupun tentu saja Habib Munzir sudah menawarkan untuk diakhiri acara tabligh tersebut tetapi hadirin tidak mau dan ingin tetap terus mendengarkan nasehat-nasehat ilmiyyah dari Habib Munzir.
*****
Semenjak Peristiwa di terminal Perumnas Kelender itulah aku mulai percaya kembali tentang adanya anak cucu Nabi Saw di Indonesia. Dan sejak itu pula di hatiku mulai bersemi rasa cinta kepada Habib-habib keturunan Rasulullah Saw. Dengan semangat cinta kucari informasi-informasi mengenai Habaib dan aku pun semakin yakin tentang kebenaran adanya anak cucu Nabi saw. Dari pencarianku berkaitan Habaib, aku mendapat kesimpulan bahwa Keturunan Rasulullah Saw itu benar-benar eksis di tengah Ummat Islam dan bisa dengan mudah dikenali ciri-cirinya. Dan mereka punya buku induk yang mencatat nasab-nasab mereka sebagai anak cucu Nabi Saw di Rabithah Alawiyyah jakarta.
Alangkah bahagianya aku akhirnya bisa kembali mencintai anak cucu Rasulullah Saw, dan alangkah celakanya aku seandainya sampai saat ini aku masih terhijab untuk mencintai Habaib anak cucu Nabi saw. Maka aku pun segera menyampaikan apa-apa yang kudapat tentang Habaib kepada orang-orang di kampungku. Alhamdulillah di kampungku sekarang setiap tahun pada setiap tanggal 27 Rajab diadakan acara Isro’ Mi’roj dengan mengundang para Habaib. Dan adik sepupuku yang alumnus Al-azhar Cairo Mesir pun menjadi bagian dari jutaan Muhibbin yang militan.
Rasulullah saw telah berwasiat pada segenap umatnya untuk berpegang kepada dua hal yaitu Alquran dan Keluarga Beliau. Ada Riwayat terkenal dengan sebutan hadits Tsaqolain, yaitu hadis yang mengutip perkataan Rasul saw: “ya ayyuhannaas innii taraktu fi kum ma in akhadlkum bihi lan tadlilluu kitaaballahi wa ‘itratii ahlu bayti.” Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang mana jika kalian mengambil nya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitab Allah dan Keluargaku, Ahlulbaitku.” ( Imam Suyuthi menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih dan benar sanadnya. Juga Imam at-Thabari menjelaskan bahwa hadis ini adalah hadis shahih. At-Thabari menyatakan bahwa perawi-perawi hadis ini adalah orang-orang yang bisa di percaya. Selain itu, bahwa yang meriwayatkan hadis ini sangatlah banyak, diantaranya Imam Muslim, Imam at-Thurmudzi, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Hakim Annaisaburi. Dengan demikian sanad hadis ini menurut kesaksian para ahli hadis adalah shahih dan benar ).
Hanash Kanani meriwayatkan: “Aku melihat Abu Dzar memegang pintu Ka’bah ( Baitullah ) dan berkata: “Wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal, jika tidak maka aku adalah Abu Dzar. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Ahlul Baitku seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam.” ( Hadits riwayat Hakim dalam Al-Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih )
Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: QS.42:23, “Dan siapa yang mengerjakan KEBAIKAN”, Ia berkata: ”Yang dimaksud KEBAIKAN adalah kecintaan kepada keluarga Nabi Muhammad saw”.